Pembunuhan Akner Rumapea Terencana Untuk Kuasai Tanah

Kriminal

TOBAPOS.CO — Polres Samosir menggelar rekonstruksi pembunuhan sadis terhadap Akner Rumapea di Desa Pardomuan Nauli, Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir, Kamis (26/9/2018) lalu diperagakan dalam 13 adegan.

Turut hadir Wakapolres Samosir Kompol Rosmana, Kasat Reskrim Polres Samosir AKP Jonser Banjarnahor, Kasat Sabhara Polres Samosir AKP Ramli Tarigan, Kapolsek Palipi AKP Nasri Ginting, Jaksa Penuntut Umum Jhon Keynes SH, Nova Marharetta SH, Crispo Mual Natio Simanjuntak, SH, Kepala Desa Pardomuan Nauli Parik Sinaga, keluarga besar Akner Rumapea dan masyarakat Desa Pardomuan Nauli sekitar 60 orang, serta melibatkan personil Polres Samosir dan personil Polsek Palipi sebanyak 77 orang sesuai dengan Surat Perintah Nomor : Sprint / 710 / IX / 2018.

Dalam peragaan rekonstruksi tersebut, Akner Rumapea dibunuh secara sadis menggunakan pisau belati dan parang panjang di depan istrinya Hetdi boru Tampubolon.

Pun istri korban selamat setelah bersujud menyembah, memohon ampun agar tidak dibunuh dan menjanjikan akan memberikan tanah miliknya kepada kedua pelaku.

“Sama kalian pun semua tanah itu asal jangan kau bunuh aku,” kata Hetdi kepada tersangka Jauba Sinaga.

Berhasil lolos dari maut, Hetdi boru Tampubolon berlari menuju gudang pembuatan batu bata sambil berteriak histeris, “Sudah dimatikan kami, sudah dimatikan kami,”. Ini diduga salah satu bukti bahwa pembunuhan terhadap Akner Rumapea sudah terencana untuk menguasai tanah korban.

Lebih lanjut, Hetdi mengatakan banyak adegan dalam fakta kejadian yang tidak diperagakan. “Masih banyak reka adegan dalam fakta kejadian tidak diperagakan dalam rekontruksi itu dan ada juga adegan yang diperagakan tidak sesuai dengan fakta kejadian, ” terang Hetdi dengan raut wajah penuh kekesalan.

Terpisah, menanggapi kasus tersebut, pemerhati sosial masyarakat Sumut, Mangapul Sihaloho SH didampinggi S. Manalu SH angkat bicara,  mengatakan bahwa bila melihat dari hasil rangkaian rekonstruksi tersebut diduga murni pembunuhan yang sudah di rencanakan secara matang dan kasus tersebut diduga kuat bukan didasari kasus pencurian daun sirih seperti yang beredar di publik.

Menurutnya, berdasarkan keterangan saksi Hetdi Br Tampubolon ada menyebutkan “Silakan ambil semua tanah kami itu asal aku jangan kau bunuh”. Dari percakapan itulah terbukti bahwa motif kasus tersebut didasari karena persoalan tanah, “Pihak kepolisian Polres Samosir semestinya harus tanggap dalam setiap melakukan proses lidik dan segera menggungkap siapa aktor dibalik kasus itu,” tegas Mangapul Sihaloho,  Senin (1/10/2018) di Medan.

Tambah Mangapul, dalam kasus itu mengatakan bisa saja ada pihak-pihak lain yang ingin membelokan kasus tersebut dari pembunuhan berencana menjadi pembunuhan biasa guna menghindari hukuman berat yang akan dihadapi para tersangka.

“Jika dilihat dari hasil rekonstruksi yang digelar tersebut sangat singkat, yang hanya memperagakan 13 adegan. Biasanya rekontruksi kasus dugaan pembunuhan berencana yang tersangkanya lebih dari satu orang itu minimal 20 adegan,” sebut Mangapul.

Sambungnya, keluarga korban harus tanggap melihat persoalan ini dan bila perlu korban di dampingi penasehat hukum agar semua bisa terbongkar secara terang benderang dan siapa aktor dibalik kasus tersebut.

Sebelumnya, nyawa Akner Rumapea (65) dihabisi di perladangan miliknya pada Minggu (19/8/2018) lalu di Desa Pardomuan Nauli, Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir. Pembunuhan sadis itu dilaporkan istrinya, Hetdi boru Tampubolon Senin 20 Agustus 2018, dengan Laporan Polisi Nomor : LP / 125 / VIII / 2018 / SMR / SPKT tanggal 20 Agustus 2018. (IR/TP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *